Beranda > Wisata > Topeng Sidakarya

Topeng Sidakarya

Pada tanggal 10 Mei 2011 bertepatan dengan ….. di Sidakarya, sepulang kantor saya sedikit terburu – buru karena ada janji untuk kepura bersama di Pura sidakarya ….. dengan keluarga Wiwin. Wiwin yang merupakan pacar saya dari dulu senang dengan menyaksikan pertunjukan tari – tarian bali dan diapun dulunya seorang penari namun karena kesibukanlah yang mengharuskan dia pelan – pelan meninggalkan hobinya itu.

Tepat pada jam 9 kami langsung berangkat ke pura sidakarya yang tidak terlalu jauh dari Rumah Wiwin -+ hanya sekitar 200 Meter. Dan seperti biasa kewajiban umat agama hindu kami melakukan persembahyangan, dan setelah selesai kami tetap berada di dalam pura yang sudah sangat ramai dan sekitar -+ 2 jam kami menunggu akhirnya Ruara Gamelan sudah terdengar, sebagian umat pun mulai merapat ke tempat pertunjukan. Awal pertunjukan kami menyaksikan penampilan beberapa penari Topeng namun pertunjukan – pertunjukan ini berbau hiburan, tapi walaupun begitu pesan – pesan dalam dialog seorang penari topeng itu sangat – sangat dalam jika di resapi, dan itu saya memang akui setiap kata mempunyai makna dengan nilai Filsafat yang tinggi. Entah dari mana sang penari mendapatkan naskah – naskah itu, Dan saya sangat kagum. Selama pertunjukan tidak semuanya terkesan serius, karena di sela – sela dialog terselip juga Humor – humoran yang memang mengkocok perut. Saya pun terbahak – bahak menyaksikannya. Walaupun diungkapkan dengan Bahasa Bali Alus sebenarnya saya tidak banyak menguasainya, namun walaupun begitu bukan berarti saya tidak memahami semua apa yang mereka katakan. Tapi untuk berbahasa bali alus saya kesulitan untuk mengungkapkannya saja tapi jika saya mendengarkan saya tau artinya. Itu karena saya memang belum begitu lama tinggal di Bali.

Dan seiring waktu berjalan saya melihat suatu kejanggalan dimana salah satu penonton yang sudah lanjut usia berdisi dan mulai menari dengan lemah gemulai dengan mata tertutup. Dan saya mengerti kalau orang tua itu sedang Kerasukan. Dan tak lama kemudian diikuti oleh dua orang wanita dimana merupakan bagian dari pengayah disana (pengayah = masyarakat yang bertugas membantu melayani semua kebutuhan upacara), mereka secara bergantian berdiri dan akhirnya menari dengan mata tertutup dan saya sangat melihat jelas ke tiga wajah penari yang dalam keadaan kerasukan atau kerauhan tersebut dimana Ekpresi wajah mereka Menangis dan saya melihat mereka bahwa, mereka sedang terharu dan memiliki rasa syukur yang teramat dalam hingga mengeluarkan air mata. Hal itu lah yang saya lihat saat itu.

(Foto diatas bukan foto saat malam itu, karena kebetulan saya tidak membawa kamera malam itu)

Dan tidak lama kemudian Wiwin berbisik, “Ini ni Topeng yang Asli mau keluar sekarang… tetap duduk ga boleh berdiri” katanya,  serentak saya merasa tegang dan tak sabar melihat Topeng Sidakarya dengan mata kepala sendiri. Sebelum Penari Topeng Sidakarya turun dari Kuri Agung Metering Jagad Dalem Sidakarya, terlihat beberapa pemangku (pemangku=pendeta atau pemimpin upakara Agama Hindu), pengayah, dan beberapa umat yang kesurupan satu persatu dan semakin bertambah hingga halaman tengah yang merupakan sebagai Area Pentas di penuhi oleh umat-umat yang kerasukan, dan saya perhatikan sepertinya salah satu Umat yang kerauhan itu adalah mirip teman kantor saya, dan begitu saya perhatikan lebih dekat ternyata memang benar, itu adalah Alit. Alit merupakan salah satu teman kantor saya, dan tinggal di desa Sidakarya, saat itu dia pulang lebih awal dibandingkan saya karena alas an persiapan upacara di Pura tersebut.

Saat itu saya melihat dengan jelas ekspresi Alit saat dalam kondisi kerauhan, mukanya merah, ekspresi seperti menangis dan perlahan dia melekukan tangannya dan mulai menari, dan yang membuat saya sedikit heran, dengan keadaan mereka yang sedang kerauhan atau tidak sadar bisa mengikuti irama Gambelan atau Gong yang di mainkan saat itu, semakin keras para pemain gamelan memukul gamelannya (sehingga Irama gamelan menjadi) maka semakin cepat juga gerakan sang penari tadi dan pada nada gamelan Ngangseh (ngangseh = bagian dari lagu yang memang betempo cepat dan keras) maka para penari yang kerasukan itu pun gerakannya semakin tidak terkontrol sehingga beberapa pengayah harus memegangi para penari yang kerauhan itu dan malahan satu orang penari kerauhan itu tidak cukup jika di pegangi oleh satu orang karena orang yang sedang kerauhan tenaganya sangat lah kuat.

Dan setelah beberapa saat turunlah Topeng Asli Sida Karya dari Kuri Agung Metering Jagad Dalem Sidakarya, dan seketika saya rasakan suasana Mistik yang sangat tinggi dan saya merinding. Seiring sang penari Topeng Sida Karya itu turun dari Kuri saya sangat-sangat memperhatikannya dengan detil dan focus karena rasa penasaran yang sangat tinggi. Topengnya sangat terlihat jelas. Mulailah sang penari topeng sida karya mengelilingi sekitaran halaman pentas dan bergerak ke tempat melinggih atau peristirahatan Ida Betara Nini dan Betaro Sri yang diikuti oleh para penari yang sedang dalam kondisi kerauhan tersebut. Tepat di sebelah saya duduk merupakan jalan mereka untuk kearah tempat melinggih Ida Betara Nini dan Betaro Sri , sehingga saya bisa melihat dengan sangat jelas. Tak lama akhirnya Topeng Sida Karya dan para pengikutnya tadi kembali ke depan Kuri Agung Metering Jagad Dalem Sidakarya, disana terlihat para Pemangku melakukan ritual – ritual. Setelah beberapa lama akhirnya Topeng Side karya kembali naik ke Kuri Agung Metering Jagad Dalem yang diikuti oleh para penari yang kerauhan tadi.

Dan acarapun selesai, saya merasa ini luar biasa, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa, saya sangat terkagum – kagum dengan Topeng Sidakarya dan kisahnya. Itu adalah salah satu alasa kenapa saya membuat tulisan ini.

Berikut adalah ringkasan sejarah dari Topeng Sidakarya 

(Sumber : http://www.parisada.org/)

Sejarah

Topeng Sidakarya ini memiliki sejarah. Singkatnya, berdasarkan referensi Filsafat Seni Sakral dalam Kebudayaan Bali oleh I Made Yudabakti dan I Wayan Watra, sejarah itu berawal dari bangsawan di Pura Besakih dari Zaman Dalem Waturenggong di Gelgel yang tengah menggelar karya besar (upacara besar). Saat itu, datang seseorang dari Keling, Pulau Jawa, mencari si bangsawan Besakih tersebut karena mereka adalah sahabat.

Sayangnya, beberapa pengawal bangsawan Besakih tidak percaya dan justru mengusir tamu tersebut. Tamu tersebut murka dan mengutuk upacara tidak akan sukses.

Karya besar pun gagal. Sang bangsawan Besakih menyesali tindakan pengawalnya yang bertindak tanpa sepengetahuannya. Ia pun mencari sang tamu yang juga sahabatnya itu dan terjadilah kesepakatan. Sang tamu diberikan tempat tinggal di Dalem Sidakarya di Denpasar selatan dan setiap ada upacara di Bali harus menggenapi dengan adanya topeng Sidakarya atau bisa digantikan dengan tirta (air) topengnya.

Ritual pembuatan

Tak hanya sang penari, proses pembuatannya pun tak bisa sembarangan karena memang tak dipakai untuk sembarangan. Topeng Sidakarya ini lain dengan topeng-topeng yang dibuat dan dijual secara massal, seperti di pasar-pasar kerajinan atau pasar oleh-oleh. Perbedaannya bisa mulai dari pemilihan bahan kayu, ritual memulai memahat, pengawetannya, hingga ritual penghidupan topeng tersebut.

Namun, jangan salah paham dengan adanya ritual penghidupan topeng ini. Penghidupan ini bukannya topeng tersebut kemudian bisa berbicara, melainkan dimaksudkan terasa lebih hidup dan menyatu dengan sang penarinya, yakni proses inisiasi (penyucian) dan pesupati (menghidupkan). Biasanya, si penari topeng Sidakarya yang telah mewinten memiliki satu topeng khusus untuk dirinya ngayah. Satu hal lagi, pembuat topengnya pun melewati tahapan mewinten.

Ida Bagus Sudiksa (51), asal Banjar Jambe, Keroboka Kaja, pun mengingatkan permintaan membuat topeng Sidakarya ini tidak bisa sembarangan meminta. ”Saya tidak akan pernah mau membuatnya jika dalam memintanya sudah mengeluarkan sejumlah angka rupiah. Kami ini pembuat topeng sakral dan ini bagian dari ngayah terhadap kehidupan ini,” katanya sambil tangannya tetap tak terganggu membuat sebuah topeng.

Menurut dia, penyakralan pada pembuatan topeng ini mampu menahan manusia untuk tidak semena-mena terhadap alam, khususnya pepohonan. Ia beranggapan pendahulunya telah memikirkan bagaimana agar manusia tidak sembarangan menebang atas nama kesenian, budaya, atau adat. Karena itu, dari pemilihan kayu hingga penebangannya pun harus disesuaikan dengan musim serta hari baiknya dengan tujuan agar alam tidak murka.

”Namun, ketika topeng sudah menjadi kerajinan yang dibuat secara massal, manusia menjadi rakus tanpa memilih kayu itu sudah cukup umur sampai tanpa pemilihan musim yang tepat pula. Semua demi kepentingan uang, bahkan pariwisata. Wajar jika kemudian alam menjadi murka. Inilah salah satu pesan topeng Sidakarya tentang alam,” katanya serius.

Sakral

Waktu pembuatan topeng sakral ini pun bervariasi, tergantung dari mood sang pengukirnya, bisa hanya tiga hari atau sebulan. Sama halnya dengan Pak Nang Tesen, Sudiksa pun mendapatkan bakat keturunan dari almarhum ayahnya, Ida Pedanda Gede Telaga. Mereka ini bukan perajin, melainkan seniman yang telah melalui tahapan penyucian. Namun, bakat ini bisa dipelajari dan tidak semuanya mendapatkan dari garis keturunan.

Hal yang unik selama pembuatan topeng sakral, antara lain, adalah pengawetannya yang harus direbus dengan kuah bumbu genep (bumbu dapur lengkap) selama 12 jam tanpa putus.

”Karena merebusnya memunculkan bau yang enak seperti kuah sayur yang bisa dimakan, sering kali tetangga pun berkelakar saya tengah membuat sup topeng yang enak dan gurih,” ujarnya.

Meski demikian, lanjut Sudiksa yang juga dosen manajemen pemasaran di Universitas Udayana itu, awet dan tidaknya topeng juga tetap tidak lepas dari awal pencarian kayu cendana, pole, atau batang kamboja, termasuk pemilihan tanggal penebangannya. Ia menambahkan, dari sejak ayahnya puluhan tahun lalu, semua pembuatan topeng menggunakan ilmu logika. ”Kami semua membuatnya dalam keadaan sadar dan pertimbangan penuh. Inilah seni lokal genius,” ujarnya.

Sayangnya, bahan pengawetan alami ini tidak diikuti dengan pewarnaan alami. Sudiksa mengatakan, pewarnaan alami tidak lagi memiliki kualitas sama kuat antara puluhan tahun lalu dan sekarang. Karena itu, ia terpaksa menggantikan dengan cat kimia dengan pemilihan kualitas nomor wahid.

Topeng sakral selain topeng Sidakarya di Pulau Dewata, juga ada topeng yang sengaja disakralkan dan biasanya disimpan di pura-pura, seperti Rangda, Barong, dan Irarung. Pementasannya pun tidak setiap saat karena memiliki hari atau waktu pementasan sendiri. Semua topeng sakral ini pun diberikan banten dan doa-doa, terutama ketika tumpek wayang, sebagai persembahan kepada Dewa Iswara.

Semoga bisa menambah wawasan anda, mohon komentarnya jika ada sesuatu yang salah dalam pembahasan saya di atas.

Salam

Adi Garst

*jika anda ingin mengcopy Artikel ini mohon tetap mencantumkan link garstTV.

Kategori:Wisata
  1. Juni 19, 2011 pukul 4:01 am

    senang bisa membaca artikel anda dalam halaman ini…sangat bagus sekali menurut saya….tapi mengenai sejarah TOPENG SIDAKARYA sendiri saya punya sejarah lainnya dengan versi yang sangat berbeda…..info lebih lengkap clik. dalembalibatuselem.blogspot.com.. terima kasih…..wijaya

    • Juni 20, 2011 pukul 3:46 am

      Waw… saya sudah liat blog bli wijaya… ternyata disana ceritanya lebih komplit… salam kenal bli…. saya pencinta budaya Bali juga… tapi minim banget sama pengetahuan budaya..heheh maklum bli saya dari kecil besar di kota tetangga… Salam kenal bli Wijaya..

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: